jump to navigation

Suzuki Inazuma, motor turing terbaik dengan strategi marketing yang parah 3 January 2015

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
trackback

Suzuki-GW250_BLK_L3

Tiada motor yang menjadi tanda tanya besar sebesar tanda tanya yang berkisar di seputaran keberadaan Suzuki Inazuma GW 250, motor turing terbaik di kelas 200-250cc. Di India, walaupun Inazuma baru diluncurkan tahun lalu tapi santer terdengar kabar bahwa penjualannya akan disetop pada bulan Maret 2015 ini.

Meskipun banyak pihak mengakui keandalan motor turing ini, mengapa ya penjualannya flop?

Padahal dari segi segmen pasar mestinya Suzuki dapat mengambil ceruk pasar turing yang ditinggalkan oleh Honda Tiger GL200 dan Yamaha Scorpio Z 225 yang bila keduanya digabungkan berpotensi lebih dari 1000 unit perbulan. Sungguh potensi yang sangat lumayan.

Mengapa penjualannya kurang berhasil?

Walaupun memang ada beberapa aspek disain yang harus diperbaiki, namun kalau menurut penulis, biang kerok terbesar kegagalan pemasaran adalah eksekusi strategi marketing yang buruk.

Kesalahan Pertama, kurang jeli melihat segmen sehingga salah dalam menerapkan pricing strategy. Walaupun SIS (sebagai ATPM) tahu segmen Inazuma adalah segmen komunitas turing, namun seolah tuli mendengarkan suara hati komunitas. Seperti yang pernah saya bilang, SIS memang tidak percaya dengan suara komunitas (lihat ini). Hal ini membuatnya gagal dalam membentuk strategi pricing yang tepat. Keputusan pricing yang kemudian diambil adalah mempositioningkan motor ini sejajar dengan Honda CBR250 dan Kawasaki N250R yakni dengan mematok harga sekitar Rp. 50 juta kurang sedikit. Padahal sebelumnya banyak komunitas yang memberikan ancer-ancer harga psikologis di atas 30 juta namun di bawah 40 juta untuk produk Suzuki GW250. Namun, SIS tetap keukeuh menjual Inazuma diharga Rp. 47,5 juta yang jauh di atas harga psikologis.

Memang, dengan menjual di bawah Rp. 40 juta SIS (barangkali) akan rugi besar. Tapi mestinya ini disiasati dengan membuat Inazuma di pabriknya yang luas dan besar di Tambun, Bekasi, alih-alih mengimpornya dari negeri Tiongkok. Biaya PPN impor saja bisa kena hampir 100% yang bisa ditekan bila membuat sendiri.

Kesalahan Kedua, Discount Harga. Seolah telmi karena menyadari penjualan 2013 flop, kemudian pada pertengahan 2014 SIS merevisi harga Inazuma menjadi Rp. 37.5 juta dalam kedok diskon Rp. 10 juta. Alangkah bodohnya strategi ini. Bayangkan perasaan terkhianati konsumen yang terlanjur membeli Inazuma Rp. 47,5 juta. Mereka akan merasa tertipu karena membeli kemahalan, dan marah karena membayangkan berapa harga resale value kendaraan Inazuma mereka jika mereka harus menjualnya kembali. Dengan membuat strategi ini, SIS rela mengorbankan reputasi Suzuki sebagai pembuat motor terbaik didunia. Nama baik sulit diperoleh, bung.

Kesalahan Ketiga, kurangnya aktivitas pemasaran baik di above the line maupun below the line. Kapan terakhir kali melihat iklan Inazuma di tivi? (tidak pernah), dimajalah? (tidak pernah). Kapan terakhir kali mengikuti event yang berkaitan dengan Inazuma ? (tidak pernah).

Kesalahan Keempat, kelangkaan/kemahalan spareparts. SIS telah berhasil membuat mitos tersendiri bahwa parts Suzuki itu mahal. Sudah mahal langka pula. Jadi teringat rekan di Bekasi yang konon harus inden 1-2 hari di bengkel resmi hanya untuk pesan kanvas disk brake Inazuma. Barang fast moving saja harus inden.

Bagaimana yang slow moving?

Yah, nasi telah menjadi bubur. Kegagalan beruntun SIS di pasar sepeda motor 250cc (GS250 & GW 250) telah menjadi rekor tersendiri di masyarakat penggemar sepeda motor di Indonesia. Sekarang kita tinggal menunggu berita saja, apakah Inazuma Indonesia akan mengikuti nasib Inazuma India yang discontinue pada tahun 2015 ini?

Rasanya mengingat pasar motor turing 200-250 cc masih terbuka lebar SIS belum terlambat merevisi strategi marketingnya. Contoh lah Honda CBR150 yang secepat kilat memutuskan merevisi pricing strategynya dengan memproduksi sendiri motor tersebut di dalam negeri ketika mengetahui pesaing terdekatnya Yamaha R15 dibandrol di bawah Rp. 30 juta. Hal ini dilakukan agar juga mampu menjual CBR150 dikisaran harga yang sama. Apakah pangsa pasar Honda CBR150 tergerus? Tidak juga.

Hayo Suzuki, jangan menyerah. Improve strategimu, banyak pengguna Tiger dan Scorpio yang ingin beralih tapi masih belum menjatuhkan pilihan. Buatlah Inazuma di dalam negeri, buatlah product improvement sedikit (yang harus diimprove ada dalam tulisan ini) kemudian rangkullah komunitas motor turing.

Comments»

1. Anonymous - 15 July 2016

Setuju


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Hati-hati Menata Hati

seni menata hati, jiwa dan fikiran

Nunoo's Journal

An ignorant rider

kilaubiru™

Expect nothing. Do something.

INDOBIKERMAGS

Skutik - Bebek - Sport - Supersport - Superbike - Roadster - Cruiser - Cross - Heavy Enduro - Classic - WSBK - MotoGP

autoblogindonesia

A Simple Blog Contents Automotive Informations

Iwanbanaran.com

All About Automotif | Autonews | Discussion | Issue | Review | New product

tmcblog.com

Motorcycle News | New Product | Racing | Review |

Nichoz Blog

Otomotif | Review Produk | Elektronik | Kuliner | Oleh-oleh

Rudi Triatmono Personal Blogs

A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

smartf41z

doa untuk anakku (Faiz-Nafis) agar jadi anak smart

7Leopold7

Catatan ttg bron pit dan perjalanan saya bersama mereka

Otomotoshare's Blog

Sharing Through The Automotive World

learningfromlives.wordpress.com

Gubuk kecil untuk belajar dan berbagi pemikiran.

Yamaha Vixion Club Bogor

MoreThan A Club Activities

%d bloggers like this: