jump to navigation

Skuter Modern Rasa Skuter Vespa Kuno 11 February 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
add a comment

Pada tulisan sebelumnya penulis menyampaikan bahwa sejak pertama kali meluncur di jalanan Indonesia (tahun 60-an) sampai sekarang skuter Vespa (kuno) tetap memiliki penggemarnya sendiri. Fanatisme penggemar tercermin dari kerapnya kita berjumpa dengan motor jenis ini di jalanan saat ini walaupun motor ini sebenarnya sudah discontinued lebih dari 30 tahun lamanya.

Uniknya penggemar Vespa kuno, mereka seakan-akan berlomba-lomba membubuhkan ‘signature’nya sendiri sendiri agar modifikasi Vespa mereka tidak ada yang menyamai. Ada modifikasi yang ringan yang simpel seperti cat warna warni, ganti knalpot, memasang bracket bagasi variasi sampai dengan modifikasi yang ekstrim dan seram seperti menelanjangi Vespa dan menaruh tangki batangan ataupun mengubahnya jadi Trikes.

Saya berani bertaruh bahwa mengingat nilai sentimentilnya banyak juga yang ingin memiliki Vespa kuno tersebut tapi sampai sekarang urung membelinya mungkin karena beberapa hal. Misalnya enjin 2-tak nya yang dianggap tidak ramah lingkungan; koplingnya yang keras dan melelahkan, atau juga teknologi nya yang dianggap ketinggalan jaman dan rawan rewel. Intinya banyak penggemar yang ingin memakai Vespa kuno tapi mau Vespa yang nyaman dan andal untuk dikendarai.

Genuine Scooter Company (http://genuinescooters.com/stellaauto.html) sebuah perusahaan yang berbasiskan Chicago, AS mengakomodasi kebutuhan ini ke dalam line produksinya. Produknya dinamakan Stella yang persis plek seperti Vespa PX keluaran kuno.

Perusahaan ini tidak memproduksi sendiri Stella tapi meletakkan basis produksinya ke India yaitu LML (Lohia Machinery Ltd). Produsennya ini bukanlah perusahaan abal-abal dan telah go public sejak tahun 1978. Selain itu LML telah 30 tahun lebih bekerja sama dengan Piaggio untuk memproduksi skuter PX. Jadi kita boleh percaya bahwa skuter Stella dibuat dengan teknologi yang baik.

Lihat lah sosoknya. Penggemar Vespa kuno pasti mengenalnya sebagai Vespa PX bukan?

stellaauto_metallicred

Genuine Scooter Company Stella

Kalau ada yang lupa dengan (atau belum pernah melihat) sosok Vespa PX yang pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1975, maka bentuknya adalah seperti ini.

wpid-vespa-px-200e1

Vespa ini menggunakan mesin silinder tunggal 2-tak 150 cc berpendingin udara dan memiliki transmisi manual 4-kecepatan. Konsumsi BBMnya sekitar 38 km/l. Vespa PX juga dikeluarkan dalam varian 125cc dan 200cc tapi saya belum pernah melihatnya di Indonesia.

Sedangkan Stella memiliki enjin yang lebih kecil namun efisien yaitu silinder tunggal 4-tak berpendingin udara namun telah bertransmisi otomatis. Efisiensi BBM diklaim pabrikannya adalah sekitar 43 km/l.

stellaauto_b

Harganya US $3500 COD Amrik. Tertarik?

Catatan.

Astaga, catatan ini saya buat setelah tulisan di atas di publish. Saya baru ngeh sudah pernah mereview PX tahun 2003 disini. Lupa saya. Silakan dibaca-baca untuk tambah referensi tentang skuter legendaris Vespa.

Strategi Marketing Skutik Premium: Honda, setelah PCX lalu apa? 10 February 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
add a comment

Seru sekali melihat bagaimana PCX yang cantik artistik mendadak terlihat seperti terkena lepra ketika Yamaha merilis Nmax nya yang tampan. Betul2 Nmax pembunuh sadis.

Honda-PCX-Glamour-White

Honda PCX

Pertama kali sewaktu dikeluarkan, Honda Pcx berkubikasi 125cc impor langsung dari negeri Thailand. Seingat saya waktu itu harganya sekitar Rp. 25 juta, kurang lebih seharga Honda Tiger, varian termahal Honda pada saat itu. Waktu itu penulis terkagum2 dengan fitur iddle start-stop system yang fenomenal. Sosoknya yang penuh lekukan indah membuat bikers rela inden berminggu2 untuk mendapatkannya. Ketika kemudian skuter tersebut naik kelas ke 150 cc maka sambutan semakin menggila sampai populasinya menembus angkat di atas 10 ribu unit hanya dalam waktu 3 tahun saja. Cukup baik. Pcx melenggang sendirian sebagai raja skutik premium dengan harga fantastik, tak kurang dari 37 juta-an rupiah on-the road.

yamaha-nmax

Yamaha NMax

Kemudian awal tahun lalu muncullah Yamaha Nmax, skutik 150 cc juga dengan fitur premium yang meramaikan pasar dengan harga 10 juta lebih murah daripada PCx. Kejayaan PCx ambruk seketika. Ketika harga masih menjadi satu faktor penentu utama dalam desisi orang Indonesia membeli motor, PCX (kini hampir menyentuh 40 juta) terkapar di tangan Nmax. Tersungkur malah. Hanya dalam waktu setahun saja, Nmax menurut AISI sudah terjual lebih dari 100 ribu unit baik untuk pasar lokal maupun ekspor. Jadi teringat ketika dulu CBR pontang panting harus repositioning strategi 5P nya ketika Yamaha dengan mantap memasuki pasar dengan R15 produksi nasional dengan jauh lebih murah.

Kini setelah PCx yang terlihat jelek ketika bersanding dengan NMAX siapa kira2 yang mampu menantang dominasi NMAx?

Apakah amunisi yang dimiliki Honda? Kayaknya jauh panggang dari api.

Jadi inget kejadian tempo hari ketika CS 1 terkaing-kaing kesakitan bertarung di pasar bebek super. PAda waktu itu Honda sebenarnya memiliki Honda Ayam Jago Sonic 150 yang cukup sukses di Thailand. Tapi mereka membutuhkan riset setidaknya 3 tahun sebelum akhirnya memutuskan mendiscontinue CS1 dan menelurkan si Ayam Jago Sonic di pasar lokal. Telat. Satria FU semakin berkibar malahan bertelur lagi dengan mengeluarkan varian FU 110. Sementara itu Yamaha ganti konsep bebek super dengan mendominasi segmen bebek berotot dengan ban gambot, MX King 150.

Balik ke Skutik Premium, soal tersungkurnya PCx di tangan Nmax. Kayaknya walaupun ada gosip bahwa Honda AHM sedang melirik varian skutik premium lain (diduga keras Honda Forza) tapi mengingat di masa lalu Honda selalu telmi, maka bila rencana ini jadi mungkin baru bisa diwujudkan setelah tahun 2017 mengingat Honda Forza aslinya berada di kelas 300 cc sehingga tentu saja Honda membutuhkan waktu untuk mencari engine yang sesuai. Memang bisa saja engine Pcx di swap ke dalam pangkuan Forza tersebut. Tapi ya itu lah…..Honda sudah beberapa kali telmi. Ahhh…apakah Honda sudah berubah?

Apakah mereka sekarang adaptif dengan keadaan pasar? Kita lihat saja.

Suzuki Burgman 125

Suzuki Burgman 125

Sementara itu Suzuki yang dipasar super premium telah mengeluarkan Burgman 200 cc ternyata punya andalan yang bisa saja tiba2 menggebrak pasar. Dengan Brugman 125 yang siap impor, merek ini dapat menempati celah premium sedikit di bawah PCx/Nmax tapi memiliki kelas jauh lebih bergengsi daripada Vario 125 yang tetap dianggap skutik biasa walaupun Vario kini sudah naik ke kelas 150cc. Berbeda dengan Burgman 125, walaupun kubikasi di bawah Vario tetap saja kesan yang diperoleh sangat premium. Spek nya pun cukup lumayan: mesin silinder tunggal 125cc berpendingin air yang mampu memuntahkan power sebesar 11.8bhp pada 2500 rpm dan torsi pada 7000 rpm dengan berat sekitar 139kg. Kan menarik jika Burgman ternyata (ngayal) bisa dijual sekitar 26 juta (di atas Vario tapi di bawah Nmax)? Tapi strategi marketing Suzuki kan terkenal lebih bolot daripada Honda?

Hmm menarik dan seru rimba persilatan skutik premium ini. Bikin kopi, ambil kacang. Nyimak ah!

Kangen (Nostalgia) Motor 2-tak 9 February 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
4 comments

Saya naik motor sudah lama. Sejak tahun 1974 nyuri-nyuri bawa Honda C-90 kepunyaan om. Tapi saya sedang tidak membicarakan Honda tersebut. Yang mau dibicarakan adalah hal yang lain. Saya mau bernostalgia sejenak. Mengenang kejayaan motor 2-tak.

Pada saat saya sekolah dan kuliah dulu (tahun 70-an dan 80-an) kebanyakan motor adalah berjenis 2-tak. Pengendaranya tidak bisa pelan karena karakteristik tarikan motor yang spontan membujuk adrenalin untuk membejek gas sampai pol. Ada sensasi khas bau oli samping yang terbakar. Anak2 racing suka menambahkan aditif di oli samping yang berbau harum dan anehnya sangat saya sukai.

Semenjak 30 tahun terakhir ini motor2 2- tak pelan-pelan telah menghilang dari jalanan. Perusahaan otomotif harus mematuhi regulasi yang pro terhadap lingkungan hidup sehingga hanya menjual motor 4-tak untuk pasar Indonesia. Sehingga kalau berkendara di jalan raya yang tercium hanya bau sengak asap knalpot 4-tak yang (terkadang) bikin pusing. Walaupun kadang-kadang kita masih bertemu dengan Kawasaki Ninja 150 (dengan varian fairing dan naked) tapi suasana sekarang telah jauh berbeda. Tiada lagi terdengar raungan cempreng serta asap wangi khas 2-tak yang mendominasi di jalanan. Ingin rasanya kembali ke periode 30-40 tahun yang lalu ketika bunyi motor terasa merdu serta asap knalpot berbau harum. Di ingatan saya berkelebat ke jenis2 kendaraan yang dulu sangat akrab di penglihatan, pendengaran dan penciuman saya yang bagi anak motor sekarang mungkin sudah tidak diingat lagi. Saya kangen sekali motor2 hebat 2-tak yang walaupun cc nya kecil (pada saat itu pada umumnya sepeda motor berkubikasi 100 cc) tapi sangat kencang dan merajai semua sudut jalan di kota dan desa.

Saya ingin menerawang ke masa silam mengingat2 10 besar motor2 anak muda jaman dulu, terutama motor laki2. Saya ingin membagi kenangan dengan anak-anak motor sekarang motor2 2-tak sebagai refleksi karena merupakan bagian sejarah budaya pop bikers nusantara. Kita mulai dengan motor nomor 10 (urutan nomor tidak mencerminkan keunggulan masing2 motor dibandingkan motor lainnya).

Vespa 125 Super (VNC1) 01

10. Vespa Piaggio. Kendaraan ini mudah ditemukan sampai sekarang karena peminatnya masih (sangat) banyak. Bila bertemu Vespa tua yang terawat dengan knalpot ori, pembaca masih bisa mendengarkan bunyi kalengnya yang khas empuk dan enak didengar. Kelebihan Vespa sehingga banyak disukai adalah ruang kaki yang lapang untuk dimuati barang atau diboncengin anak kecil serta cub nya yang lebar sehingga bila pengendara sudah menggunakan ponco ketika hujan lebat tidak mudah kebasahan. Vespa tertua yang pernah saya pakai (tepatnya minjem) adalah Vespa tahun 50 an bawaan Pasukan Perdamaian PBB (Garuda III) dari Indonesia yang ditempatkan di Kongo. Pada saat itu tentara kita bingung membawa oleh2 dari Kongo karena keterbatasan pilihan. Biasanya kalau tidak membawa mesin jahit, tentara kita membawa Vespa pulang ke tanah air. Selanjutnya pada pertengahan tahun 60-an ATPM di Indonesia yaitu PT Danmotors Vespa mulai merakit Vespa di pabriknya yang megah di Kelapa Gading. Saya ingat kantor pemasarannya terletak di Jalan Sudirman, sekarang tanah kosong di seberang Ratu Plaza. Pabriknya sendiri sudah lama tutup, namun daerah tersebut sampai saat ini dinamakan Kelapa Gading Vespa. Waktu saya masih kecil terdapat 2 varian Vespa yang sangat populer yakni Vespa Super (125) dan Vespa Sprint (150 cc).

Yamaha LS2
9. Yamaha LS2. Motor ini keluar pada awal tahun 70-an dan merupakan pendahulu seri RX. Dalam pengamatan saya sebagai anak kecil waktu itu, motor ini banyak disukai anak2 muda yang telah bosan dengan andalan anak muda tahun 1960-an yang cemen, yaitu Honda C-90 tangki panjang yang woles. Motor ini sangat kencang dan sering digunakan untuk balapan di jalan raya.

Suzuki A 100

8. Suzuki A 100. Motor ini diluncurkan awal tahun 1970-an sebagai jawaban Suzuki terhadap Yamaha LS2. Sekarang motor ini sulit ditemui padahal dulu banyak sekali berseliweran di jalan raya. Motor ini sangat andal sehingga digunakan oleh Pak Pos mulai dari perkotaan sampai dengan pelosok2 desa. Terobosan teknologi yang sangat menarik dari motor ini (seingat saya LS2 juga demikian) adalah letak karburatornya yang ngumpet di dalam mesin sehingga terlindung dari angin dan air. Pada umumnya motor ini dipakai oleh bapak2.

Suzuki GT 100
7. Suzuki GT 100. Motor ini diluncurkan Suzuki sekitar tahun 1975-an untuk mengisi segmen anak muda karena menyadari bahwa A 100 dinilai berpenampilan serius dan kebanyakan diminati oleh bapak2. Motor ini diluncurkan bersamaan dengan ‘kakak2’ nya yaitu GT 125, GT 185, GT 250 (2-silinder) dan GT380 (3 silinder). Motor ini sangat populer dengan inovasinya yaitu disk brake pada roda depan. Tapi menurut saya populer bukan karena kencangnya tapi karena gantengnya. Iya, ini adalah motor untuk ngeceng. Seri GT kemudian diikuti oleh seri GP (dikeluarkan 2 varian, 100 cc dan 125 cc). Seri GP adalah motor pertama di Indonesia yang mengadopsi pengapian CDI.

Yamaha RX 100
6. Yamaha RX-100. Sebagai kelanjutan dari LS2, dan sebagai jawaban atas kehadiran Suzuki GT 100, pada tahun 1975-an Yamaha kemudian meluncurkan RX-100 dengan model yang jauh lebih manis dan dimensinya sedikit lebih besar dan tinggi dibandingkan LS2. Model ini memiliki mesin yang sangat kencang dan sangat digemari pembalap jalanan. Varian ini diluncurkan bersamaan dengan ‘kakak’nya RX-125 yang memiliki 2 silinder.

Binter KH 100 ES - 1
5. Kawasaki Binter KH100. Pada akhir tahun 1970-an Kawasaki tidak mau ketinggalan berpartisipasi meramaikan bursa motor. Namun pada saat itu tidak ada yang mengenal PT Kawasaki Motor Indonesia. KMI belum eksis dan produk Kawasaki pada saat itu dirakit oleh sebuah perusahaan bernama PT Bintang Terang (Binter). Oleh karenanya semua produk Kawasaki pada saat itu mengusung nama Kawasaki Binter, seperti KH 100 ini.

Yamaha DT 100 (1976) - 1
4. Yamaha DT-100. Yamaha ini ngetop dengan nama Yamaha Enduro sesuai sub mereknya yang tertera di samping motor. Ini adalah satu-satunya motor trail yang begitu diluncurkan pada tahun 1974 an langsung menjadi hits dan sangat laku. Popularitas motor ini semakin menjulang ketika superstar waktu itu (Roy Marten) main filem menggunakan motor ini sebagai tunggangannya untuk ngeceng. Motor ini juga digunakan superstar lainnya (Pdt) Junaedy Salat di filem Ali Topan Anak Jalanan (1977). Saking ngetopnya motor ini dalam mengeluarkan aura kejantanan, Swara Mahardika Guruh Sukarnoputra juga memakai motor ini sebagai prop di panggung untuk digunakan Achmad Albar dalam menyanyikan lagu Anak Jalanan akhir tahun 1970-an.

suzuki_ts125_duster
3. Suzuki TS 125. Suksesnya DT 100 mencuri perhatian anak2 muda pada saat itu memancing Suzuki untuk mengeluarkan seri TS dengan cc yang lebih besar yang juga menjadi hits pada saat itu. Pokoknya pada akhir tahun 1970-an tersebut raja jalanan adalah motor-motor trail yang asapnya berbau harum.

Yamaha-RX-King-2002
2. Yamaha RX King. Sebagai kelanjutan dari RX 100 pada awal 1980 an itu pula Yamaha mengeluarkan produk 2-taknya yang legendaris dan (menurut saya) tak terkalahkan sampai sekarang, RX King. Kendaraan ini naik kelas dari kelas 100 cc menjadi 135 cc. Motor ini saking kencangnya sangat populer dikalangan jambret sebagai kendaraan untuk melarikan diri karena motor ini boleh dibilang tak terkejar. Motor ini diproduksi selama 30 tahun dan memegang rekor produksi terlama di Indonesia.

Binter AR 125
1. Kawasaki Binter AR 125. Motor ini diluncurkan pada pertengahan 80-an jelas untuk menghadang laju RX King. Rancang bangun motor ini mulai meninggalkan disain tahun 70- 80 an yang kotak2 serba besi dan mulai mengadopsi disain yang aerodinamis menggunakan plastik di sana sini. Untuk ukuran tahun 80-an motor ini sangat cantik dan lain sendiri. Mengapa? Motor ini lah motor pertama di Indonesia yang saya ketahui menggunakan pendingin air. Motor ini sangat kencang sehingga sering digunakan tanding dengan RX King. Sebagian bikers malahan sangat fanatik dengan motor ini dan menganggap motor ini mampu menaklukkan RX King sang Legenda. Ketika saya masih menggunakan Suzuki GT 250 di tahun 80-an, maka hanya AR 125 dan RX King yang berani pecicilan menantang balapan. Kedua motor ini memang sangat kencang dan imbang walaupun cc nya berbeda sedikit. Tapi kalau harus memilih diantara 2 pilihan tersebut saya tetap akan memilih RX King yang memiliki cc yang lebih besar.

Catatan: foto-foto motor di atas ini bukan milik saya namun milik pemiliknya yang berhak. Bila anda pemilik foto tersebut dan keberatan atas dimuatnya foto tersebut di blog saya, maka saya akan menghapusnya dengan permintaan maaf. Tks.

AC Motor 30 January 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
1 comment so far

Salah satu hal yang cukup menyebalkan dalam riding baik di dalam kota maupun turing adalah panasnya suhu ketika riding. Apalagi kalau kita mengenakan jaket standar riding yang berat dan tebal di siang hari. Alamat basah kuyup ketika sampai ketujuan. Gerah. Alangkah nikmatnya bila kita bisa naik motor pakai AC. Pasti nyaman dan nyesss rasanya.

Impian terkabul. Sekarang sudah tersedia AC untuk riding motor.

AC untuk motor? Memangnya ada? Gak bercanda. Ini AC beneran untuk sepeda motor. Namanya Bike Air. Pencipta dan pembuatnya adalah EntroSys (http://entrosys.com/) sebuah perusahaan yang berbasis di Amrik. Sistim Unit AC nya terdiri dari sebuah unit kira2 sebesar seat bag seberat 4,5 kg yang dapat ditempelkan di jok bagian belakang. Alat ini dapat memompakan udara dingin (ataupun hangat bila perlu) melalui selang yang mirip selang vacuum-cleaner kedalam jaket riding kita.

BikeAir1

Alat ini memiliki 2 buah sistim utama. Pertama adalah unit mesin AC pribadi sebagai sumber keluarnya udara dingin dan yang kedua rompi ringan sebagai tempat penerima udara dingin. Udara dingin (atau hangat) disalurkan melalui sebuah selang.

4timthumb.php

1timthumb.php

Pengoperasiannya cukup dilakukan melalui remote control yang dapat ditempelkan dengan velcro di setang motor.

2timthumb.php

Saat ini Bike Air masih diproduksi secara terbatas namun sudah dapat dipesan. Harganya sekitar US 1500 dollar. Tertarik?

BAJAJ YANG TAMPAN, PULSAR CS 400 29 January 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
2 comments

Sayang sekali Bajaj, perusahaan otomotif terbesar di India telah cabut dari Indonesia sejak 2014 yang lalu. Moment yang sangat tidak pas karena dilakukan pas peluncuran ‘bayi’ mereka yang istimewa bila dibandingkan dengan produk Bajaj lainnya: P 200 NS. Walaupun mereka cukup ‘licin’ melakukan strategi marketing dengan melakukan mixed branding bersama Kawasaki (seperti yang mereka lakukan di Filipina) tapi hasil bisa diramalkan kurang memuaskan. Hal ini disebabkan ‘kengganan’ PT KMI sebagai pemasar Kawasaki di Indonesia dalam memasarkan Bajaj Pulsar 200NS yang cukup terasa bagi konsumen motor. Contohnya saya sempat kesulitan menemukan P200NS di dalam line-up produk Kawasaki di situs resmi PT KMI. Baru ketemu setelah saya cari di Google dan mengaitkan dengan PT KMI. Sungguh terlalu.

Ah, biarlah. Biar saja Bajaj menikmati ‘penghianatan’nya kepada bikers Indonesia dengan meninggalkan gelanggang dan puluhan ribu konsumen yang terlanjur membeli Bajaj 135, 180, 200 dan 220.

Di India sendiri Bajaj Auto adalah sebuah brand yang sangat eksis dan terus menelurkan produk berinovasi baru. Salah satunya adalah sebuah motor menengah yang sangat tampan si naked Bajaj Pulsar CS 400. Bagaimana sosoknya?

bajaj-pulsar-400-cs_650x466_71425042805

Motor ini nyaris meninggalkan signature tangki Bajaj yang secara tradisional didisain elips mirip telur miring. Tangkinya betul-betul cantik mendekati sempurna. Perhatikan lampu depannya yang tajam berwibawa didukung oleh front fork upside-down yang sangat kekar. Di bawah tangki bertengger radiator air serta engine cover futuristik yang menambah kejantanan dan ketampanan motor ini.

bajaj-pulsar-cs400-p
Sosok CS400 pertama kali terlihat di Delhi Auto Expo 2014 berupa motor konsep 400SS. Motor ini yang ditenagai oleh enjin KTM 390 (373.2 cc) mampu menyemburkan output sebesar 43bhp (32 kW) yang sangat bertenaga dan menjadi yang terkencang diantara produk Bajaj lainnya. Motor ini berkecepatan 6 persneling sehingga memungkinkan bermanuver dalam berbagai variasi kecepatan. Kabarnya motor ini akan diluncurkan pada tanggal 1 Februari mendatang. Harganya diperkirakan 1.60.000 rupee atau sekitar US 2.350 dollar yakni hampir 2 kali lipat dari harga P 200NS yang hanya sekitar 91.553 rupee. Bila harga P200NS di Indonesia sekitar 24 juta maka bila kelak P CS400 masuk ke Indonesia dengan harga sekitar dua kali lipatnya atau sekitar 48 juta saya pikir akan laku keras.
Bayangkan, dengan membayar seharga Yamaha MT25 atau Kawasaki Z250 dapat motor kelas 400 cc siapa yang gak mau? Saya mau.

8811f7d432f625dfccbe92302fad3093

 

Modifikasi Revo Absolute 27 January 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
8 comments

Bagi setiap warga Jabotabek yang setiap hari harus menembus kemacetan Jakarta untuk bekerja, motor adalah salah satu pilihan transportasi yang paling praktis. Namun mengingat pekatnya traffic setiap pagi dan sorenya, pemilihan sepeda motor merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kenyamanan dalam berkendara.

Bagi saya dan kebanyakan orang, motor batangan yang menggunakan kopling manual kurang praktis dan sangat melelahkan. Pilihan berikutnya adalah bebek yang menggunakan kopling otomatis atau skuter matik (skutik) yang hmmmm matik. Kedua jenis motor ini langsing sehingga mudah melakukan manuver diantara kendaraan.

Saya tidak punya matic. Ban nya yang kecil serta badan saya yang tinggi besar (186 cm) tidak match sama sekali. Makanya saya pilih bebek. Pilihan saya jatuh pada Revo Absolute, CW. Tapi tetap saja kekecilan. Setangnya kependekan, Bannya kekecilan. Harus dimodifikasi. Modifikasi pendahuluan dapat dilihat disini.

Bebek Revo ini saya gunakan setiap hari untuk bekerja sehingga saya pastikan enak serta aman dikendarai. Untuk itu ada beberapa modifikasi tambahan yang saya lakukan.

Pertama, mengganti setang Vixion yang sempit dengan fatbar yang lebar. Hal ini memudahkan melakukan manuver dalam berbagai kecepatan. Fatbar ini ada di banyak toko aksesoris motor. Harganya sekitar 220K.

20160126_215904

Perhatikan bahwa saya mengaplikasikan spidometer X-ride sebagai pengukur kecepatan. Spidometer ini cukup akurat dan jauh lebih akurat dibandingkan dengan spidometer aftermarket sebelumnya (bentuknya seperti pengukur RPM disebelah kirai spidometer). Spidometer ini mudah diperoleh di setiap service center Yamaha. Harganya sekitar 350K.

Mengingat setiap hari saya pulang malam maka untuk berkendara di malam hari saya ingin memastikan bahwa lampunya cukup terang dan aman. Saya memilih mengaplikasikan double lamp ala Buell yang saya beli di Polaris seharga 500K.

IMG03120-20160127-0716

Selanjutnya saya pindah ke sektor kaki2 yaitu ban, rem dan sokbreker. Saya mau ban besar untuk bebek saya. Tadinya saya pakai ban non-tubeless. Tapi seminggu kemudian dihajar paku di daerah Manggarai. Saya sebal harus mendorong motor hampir 1KM untuk mencari tukang tambal. Pada sabtu berikutnya saya berkonsultasi dengan Ferdi, pemilik bengkel langganan. Dia bilang dengan teknologi cairan penambal ban, velg jari2 juga bisa mengaplikasikan ban tubeless. Oh ya? Saya betul2 tidak tahu. Saya teringat bahwa saya masih punya ban cadangan bekas Byson (IRC 120/17/70) yang baru saya pakai berjalan sekitar 3 Km karena tak lama beli Byson langsung saya ganti bannya dengan ban yang lebih besar. Eh, ternyata benar2 bisa. Velg jari2 saya sekarang pakai ban besar tubeless. Tapi itu kejadian tahun lalu. Sekarang saya pakai ban Swallow B117 120/17/80 yang berkarakter dual purpose. On road bisa, off road juga bisa. Tadinya saya pakai rem tromol. Tapi remnya hangus kepanasan ketika saya bawa ke Puncak. Tak lama kemudian saya ganti dengan cakram after market merk Ride It. Sangat memuaskan. Sedangkan sokbreker saya pakai sokbreker motor batangan yang saya tambah dengan raiser agar ban tidak nyangkut dikolong.

IMG03122-20160127-0716

Oh ya, saya tadinya saya pakai knalpot racing Nob1. Tapi lama2 keberisikan. Maklum sudah bapak-bapak. Jadi sekarang pakai knalpot Yupiter yang bunyinya sangat kalem.

Kalau ban depan saya pakai IRC sama seperti punya Byson tapi dengan ukuran lebih kecil (100/17/80).

Di sektor mesin, si bebek sudah di bore up menggunakan piston Shogun. Hitungan kasar saya kubikasi ruang bakarnya meningkat dari 110cc menjadi sekitar 130cc. Lumayan untuk menyaingi tarikan truk2 di Bekasi. Maklum kalau tarikan lelet alamat kita dikentutin aja ama asap diesel truk antar kota. Untuk menyiasati mesin yang menjadi ekstra panas setelah di bore up saya membuka ruang aliran angin pada kap penutup mesin. Bentuknya seperti ini. Lumayan adem.

IMG03124-20160127-0717

Akhirnya inilah penampakan terakhir Revo saya. Perhatikan pada sektor buritan saya mengaplikasikan spakbor MX Tiger sehingga Revonya terkesan agak panjang.

IMG03127-20160127-0717IMG03130-20160127-0718IMG03128-20160127-0717IMG03123-20160127-0716

Ngeblog Lagi 26 January 2016

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , , , , , ,
1 comment so far

Lama sekali saya tidak menulis. Bukan apa-apa. Saya tidak tahu harus menulis apa. Kering ide pokoknya.

Mau nulis tentang Byson, sudah basi. Lagi pula motornya sudah dibawa anak saya kuliah di Semarang.

Mau nulis tentang Scorpio Z lebih basi lagi. Tulisan saya tentang modif Scorpio malahan tidak dapat tanggapan sama sekali.

IMG03088-20151107-0827

Scorpio Z andalan kalau turing, knalpot dobel, ban belakang 160/17/60 depan 120/17/70

Mau nulis tentang Revo yang saya pakai setiap hari udah basi juga secara sekarang sudah kuno karena Revo model baru sudah dirilis.

Mau tulis apa ya……………..

Oh ya, kemarin dulu dapet BBM dari Bro Tiar, pemiliki Raja Motor Bekasi minta foto Revo saya untuk referensi dan ide modif. Dan ternyata saya tidak punya. Padahal Revonya sudah berubah abis. Lampu depan sudah dobel ala Buell. Stang pakai fatbar. Spidometer KW yang jelek sudah saya ganti dengan punyanya X ride. Knalpot ganti pakai Yupiter Z yang kalem dan ternyata menambah power (hehehehe kayaknya sih). Ban nya juga sudah ganti. Mengingat tulisan saya tentang memasang stang motor Revo banyak peminatnya mungkin saya akan foto deh Revonya dan saya muat di sini. Tapi gak sekarang karena dekil kena lumpur.

IMG03119-20160122-2026

Revo Absolute gelap2an karena dekil kena hujan

Ah lihat saja besok. Tapi untuk bro bro sesama biker pencinta roda dua, pembaca blog yang sederhana ini saya sangat berterima kasih karena sudah sudi datang berkunjung. Tak terasa pengunjungnya sudah 500K lebih. Alhamdulillah

Mudah2an besok atau lusa dapat ide lagi…………..nulis lagi ah.

Suzuki Inazuma, motor turing terbaik dengan strategi marketing yang parah 3 January 2015

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags:
1 comment so far

Suzuki-GW250_BLK_L3

Tiada motor yang menjadi tanda tanya besar sebesar tanda tanya yang berkisar di seputaran keberadaan Suzuki Inazuma GW 250, motor turing terbaik di kelas 200-250cc. Di India, walaupun Inazuma baru diluncurkan tahun lalu tapi santer terdengar kabar bahwa penjualannya akan disetop pada bulan Maret 2015 ini.

Meskipun banyak pihak mengakui keandalan motor turing ini, mengapa ya penjualannya flop?

Padahal dari segi segmen pasar mestinya Suzuki dapat mengambil ceruk pasar turing yang ditinggalkan oleh Honda Tiger GL200 dan Yamaha Scorpio Z 225 yang bila keduanya digabungkan berpotensi lebih dari 1000 unit perbulan. Sungguh potensi yang sangat lumayan.

Mengapa penjualannya kurang berhasil?

Walaupun memang ada beberapa aspek disain yang harus diperbaiki, namun kalau menurut penulis, biang kerok terbesar kegagalan pemasaran adalah eksekusi strategi marketing yang buruk.

Kesalahan Pertama, kurang jeli melihat segmen sehingga salah dalam menerapkan pricing strategy. Walaupun SIS (sebagai ATPM) tahu segmen Inazuma adalah segmen komunitas turing, namun seolah tuli mendengarkan suara hati komunitas. Seperti yang pernah saya bilang, SIS memang tidak percaya dengan suara komunitas (lihat ini). Hal ini membuatnya gagal dalam membentuk strategi pricing yang tepat. Keputusan pricing yang kemudian diambil adalah mempositioningkan motor ini sejajar dengan Honda CBR250 dan Kawasaki N250R yakni dengan mematok harga sekitar Rp. 50 juta kurang sedikit. Padahal sebelumnya banyak komunitas yang memberikan ancer-ancer harga psikologis di atas 30 juta namun di bawah 40 juta untuk produk Suzuki GW250. Namun, SIS tetap keukeuh menjual Inazuma diharga Rp. 47,5 juta yang jauh di atas harga psikologis.

Memang, dengan menjual di bawah Rp. 40 juta SIS (barangkali) akan rugi besar. Tapi mestinya ini disiasati dengan membuat Inazuma di pabriknya yang luas dan besar di Tambun, Bekasi, alih-alih mengimpornya dari negeri Tiongkok. Biaya PPN impor saja bisa kena hampir 100% yang bisa ditekan bila membuat sendiri.

Kesalahan Kedua, Discount Harga. Seolah telmi karena menyadari penjualan 2013 flop, kemudian pada pertengahan 2014 SIS merevisi harga Inazuma menjadi Rp. 37.5 juta dalam kedok diskon Rp. 10 juta. Alangkah bodohnya strategi ini. Bayangkan perasaan terkhianati konsumen yang terlanjur membeli Inazuma Rp. 47,5 juta. Mereka akan merasa tertipu karena membeli kemahalan, dan marah karena membayangkan berapa harga resale value kendaraan Inazuma mereka jika mereka harus menjualnya kembali. Dengan membuat strategi ini, SIS rela mengorbankan reputasi Suzuki sebagai pembuat motor terbaik didunia. Nama baik sulit diperoleh, bung.

Kesalahan Ketiga, kurangnya aktivitas pemasaran baik di above the line maupun below the line. Kapan terakhir kali melihat iklan Inazuma di tivi? (tidak pernah), dimajalah? (tidak pernah). Kapan terakhir kali mengikuti event yang berkaitan dengan Inazuma ? (tidak pernah).

Kesalahan Keempat, kelangkaan/kemahalan spareparts. SIS telah berhasil membuat mitos tersendiri bahwa parts Suzuki itu mahal. Sudah mahal langka pula. Jadi teringat rekan di Bekasi yang konon harus inden 1-2 hari di bengkel resmi hanya untuk pesan kanvas disk brake Inazuma. Barang fast moving saja harus inden.

Bagaimana yang slow moving?

Yah, nasi telah menjadi bubur. Kegagalan beruntun SIS di pasar sepeda motor 250cc (GS250 & GW 250) telah menjadi rekor tersendiri di masyarakat penggemar sepeda motor di Indonesia. Sekarang kita tinggal menunggu berita saja, apakah Inazuma Indonesia akan mengikuti nasib Inazuma India yang discontinue pada tahun 2015 ini?

Rasanya mengingat pasar motor turing 200-250 cc masih terbuka lebar SIS belum terlambat merevisi strategi marketingnya. Contoh lah Honda CBR150 yang secepat kilat memutuskan merevisi pricing strategynya dengan memproduksi sendiri motor tersebut di dalam negeri ketika mengetahui pesaing terdekatnya Yamaha R15 dibandrol di bawah Rp. 30 juta. Hal ini dilakukan agar juga mampu menjual CBR150 dikisaran harga yang sama. Apakah pangsa pasar Honda CBR150 tergerus? Tidak juga.

Hayo Suzuki, jangan menyerah. Improve strategimu, banyak pengguna Tiger dan Scorpio yang ingin beralih tapi masih belum menjatuhkan pilihan. Buatlah Inazuma di dalam negeri, buatlah product improvement sedikit (yang harus diimprove ada dalam tulisan ini) kemudian rangkullah komunitas motor turing.

Inovasi Hero Motor: Skuter Diesel serba guna untuk Pedesaan 2 January 2015

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , , ,
4 comments

skuter Hero 2

Walapun di Indonesia merek ini sama sekali tidak dikenal, namun menurut Wikipedia, Hero Motor yang berbasis di New Delhi, India, adalah produsen kendaraan roda dua yang terbesar di dunia. Di India sendiri merek ini menguasai setidaknya 46% pangsa pasar.

Kesuksesan penetrasi pasar ini tak dapat dilepaskan dari kehebatan merek Honda yang sampai dengan tahun 2010 ditempelkan pada merek Hero (Hero Honda). Ya, memang Hero sejak tahun 1984 adalah partner Honda di India.

Rahasia kejelian marketer Hero adalah mampu menembus kantong2 rakyat miskin di pedesaan India dengan menyediakan sepedamotor yang murah sekaligus irit dengan slogannya yang sangat mengena: Fill it-shut it-forget it yang menggambarkan keiritan konsumsi bbmnya.

Salah satu inovasinya untuk rakyat miskin dipedesaan adalah menciptakan skuter diesel berkubikasi 150cc. Memang, sampai saat ini sang skuter belum dilempar kepasaran dan masih berupa konsep/prototype. Skuter ini dinamakan Hero RNT 150cc Diesel Concept Bike.

Lihatlah potongannya yang elok. Walaupun ditujukan kepada masyarakat pedesaan, disain skuter ini terlihat moderen dan terkesan futuristik dominasi putih bernuansa Star Wars. Rodanya dilengkapi velg racing berdisain Y yang sedang populer. Teknologi mengereman telah menganut rem cakram. Dibagian depan mulut skuter dilengkapi dengan bagasi bermuatan besar.

skuter Hero 3

Bagian tengah dilengkapi ruang kaki yang cukup lega untuk digunakan sebagai bagasi juga. Pada bagian samping belakang kiri kanan juga dilengkapi dengan ekstra bagasi besar untuk mengangkut berbagai muatan pertanian yang sekaligus berfungsi sebagai saree guard (pelindung kain perempuan) yang diwajibkan bagi sepeda motor di India.

skuter Hero 4

Untuk keperluan pertanian, menurut rancangan awalnya bagian depan ini dapat disambungkan dengan mesin pembajak tanah dan mesin panen. Yang hebatnya, enjin skuter ini juga dapat menggerakkan generator listrik 1500W yang tentu saja sangat menarik untuk masyarakat di desa2 yang belum dilengkapi listrik. Masih belum cukup juga? skuter ini dapat dilengkapi dengan hub yang dapat menggerakkan roda depan sehingga menjadi sepeda motor berpenggerak 2 roda (2 x 2). Terakhir, skuter ini dilengkapi lampu depan LED yang dapat dilepas dan difungsikan menjadi senter. Fitur-fitur yang sangat luar biasa.

skuter Hero 1

Skuter ini dilengkapi enjin diesel 150cc yang sangat kuat dan mampu menghasilkan tenaga sebesar 13.5bhp (break horse power) pada 4000 RPM dan torsi 35Nm pada 1600RPM (bandingkan dengan motor serbaguna Honda Verza 150cc yang hanya mampu menghasilkan torsi sebesar 12,7 Nm).

Bagaimana? Kira-kira laku nggak kalau ada importir yang mau memasok skuter ini untuk pedesaan di Jawa, Sumatera, Kalimantan bahkan Papua?

The Naked Rider blog in 2014 review 30 December 2014

Posted by The Naked Rider in Artikel.
add a comment

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 170,000 times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 7 days for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

COACH SAYA

untuk kinerja yang lebih unggul

Hati-hati Menata Hati

seni menata hati, jiwa dan fikiran

Nunoo's Journal

An ignorant rider

kilaubiru™

Expect nothing. Do something.

INDOBIKERMAGS

Skutik - Bebek - Sport - Supersport - Superbike - Roadster - Cruiser - Cross - Heavy Enduro - Classic - WSBK - MotoGP

autoblogindonesia

A Simple Blog Contents Automotive Informations

Iwanbanaran.com

All About Automotif | Autonews | Discussion | Issue | Review | New product

tmcblog.com

Motorcycle News | New Product | Racing | Review |

Nichoz Blog

Otomotif | Review Produk | Elektronik | Kuliner | Oleh-oleh

Rudi Triatmono Personal Blogs

A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

smartf41z

doa untuk anakku (Faiz-Nafis) agar jadi anak smart

7Leopold7

Catatan ttg bron pit dan perjalanan saya bersama mereka

Otomotoshare's Blog

Sharing Through The Automotive World

learningfromlives.wordpress.com

Gubuk kecil untuk belajar dan berbagi pemikiran.

Yamaha Vixion Club Bogor

MoreThan A Club Activities