jump to navigation

Modifikasi Minimalis Mempercantik Byson 30 January 2013

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , , ,
3 comments

Menurut penulis Byson memang motor yang gagah dan ganteng. Tapi tidak ganteng-ganteng amat. Jadi perlu ada sentuhan agar penampilannya agak lebih baik. Namun tidak semua pemotor Byson memiliki uang yang berlebih untuk mempercantik Bysonnya. Penulis sendiri memodifikasi Byson dengan cara seirit mungkin. Berikut ini adalah sentuhan yang bisa dilakukan agar Byson kita lebih ganteng lagi dengan dana yang minimalis. Modifikasi ini dilakukan dengan (sesuai preferensi penulis) tidak mengubah karakter Byson sebagai motor naked sport atau touring.

Byson-Hitam

IMG01918-20130124-1553

IMG01913-20130124-1551

  1. Lampunya besar seperti orang yang mukanya kebesaran. Kurang enak dilihat. Rupanya lis nya yang berwarna putih turut memberi kesan muka yang lebar. Untuk itu perlu diberikan sedikit aksen agar penampilannya lebih baik. Penambahan sedikit stiker berwarna hitam pada bagian samping lampu ternyata bisa membuat lampunya terkesan mengecil.
  2. Front forknya ternyata berukuran terbesar dari semua motor yang diproduksi di Indonesia. Namun penyepuhan chrome pada bagian atasnya membuatnya terkesan mengecil. Untuk itu penulis menutup bagian tersebut dengan stiker berwarna hitam. Hmm, lumayan hasilnya.
  3. Body yang besar mestinya ditunjang oleh mesin yang besar pula. Apa daya, mesin byson kecil saja. Oleh karenanya mesin tersebut harus ditunjang oleh aksesoris tambahan agar memberikan efek besar dan gagah. Untuk itu pemakaian teralis ala Ducati seharga 100 ribu bisa ditambahkan, plus penutup mesin. Khusus penutup mesin terdapat banyak pilihan di toko-toko aksesoris. Namun penulis memilih yang paling murah, hanya 80 ribu dan terbuat dari plastik. Sementara teralis ala Ducati yang penulis peroleh sangat jelek sekali, berwarna hitam dof dengan sambungan las yang sangat kasar buatannya sehingga harus didempul ulang dan di pilox dengan cat mengkilap. Ada yang senang warna merah supaya mirip betul dengan Ducati. Tapi penulis lebih suka warna hitam agar karakter Bysonnya tetap kental melekat.
  4. Salah satu bagian tubuh Byson yang paling penulis benci adalah stripingnya dan bagian samping sampai pantat belakang. Stripingnya sangat ramai seperti pasar malam. Penulis mencopot semua dan menggantinya dengan tulisan YAMAHA ditangki. Bodi samping dan pantat belakang yang aerodinamis tapi terkesan berbentuk feminin pun penulis copot. Sekarang terlihat lis bodynya. Kelihatan kekar dan gagah.
  5. Modifikasi lain adalah spatbor depan ala Ninja 250 dan bracket besi tempat menaruh tas kalau turing. Khusus spatbor mungkin bagi yang suka saja, karena spatbor byson sudah cantik. Penulis sendiri memakai yang produk KW seharga 80 ribu. Namun pemasangan bracket besi dibelakang (100 ribu) dirasa perlu karena handel besi bawaan byson terlihat buruk jika bagian pantat belakang dicopot.

Begitulah, dengan modal tidak sampai 400 ribu, penampilan Byson sudah banyak berubah dan (sangat subyektif) lebih ganteng.

Jika nanti punya uang lagi, baru ditambah dengan hand guard, tuas rem/kompling yang bisa disetel dan rear disc brake. Bertahap saja mas bro.

Rear disc brake Byson bermasalah 30 January 2013

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , , , ,
8 comments

Bulan Desember 2012 yang lalu penulis pergi ke Bandung berdua isteri. Kalau berangkatnya melalui Purwakarta – Wanayasa, pulangnya ingin lewat Lembang (Universitas Advent Indonesia) menuju Puncak. Kali ini rear disc brake (RDB) nya mengalami problem. Lansekap yang penuh turunan dan berliku-liku mungkin membuat piringan rem panas yang mempengaruhi performa. Beberapa kali penulis mengalami moment dimana rem belakang nya blong. Bahaya bro. Syukurlah rem depan berfungsi dengan sempurna.

Walau setelah dikocok-kocok, rem belakang kembali bekerja (walau tidak maksimal) namun kejadian ini tidak boleh dibiarkan terulang kembali. Jadi setibanya di Bekasi penulis segera mengunjungi bengkel untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata kanvasnya habis, hitam, nyaris tinggal besinya saja. Harus diganti. Namun anehnya setelah diganti kanvas, remnya tetap kurang pakem. Diagnosis montir, piringan (disc) harus diganti juga. Rupanya (analisis nya si montir) karena RDB nya bukan bawaan dari pabrik, maka antara kaliper dan disc mengalami proses menyesuaikan diri dimana discnya telah “tercetak” sesuai dengan format yang digoreskan oleh kanvas rem yang lama. Jadi begitu kanvas nya diganti, “cetakan” tersebut tidak sama lagi. Memang rear disc nya sudah licin bergelombang. Ya sudah, kata penulis. Ganti saja.

Setelah diganti piringan yang baru memang remnya sudah lebih enak. Namun  masih belum betul-betul mantap rasanya. Kata montirnya, tunggu dulu pak. Perlu beberapa waktu agar piringan tersebut tercetak sesuai bentukan kanvas rem yang baru. Entah benar entah tidak. Ada yang tahu penjelasan lain?

rear disc brake

Ini penampakan RDB nya sebelum piringannya diganti. RDB nya sendiri terdiri dari master rem Nissin, kaliper after market, piringan Suzuki Satria, selang dan tabung minyak rem after market.

Gambar

Ini penampakan RDB nya setelah piringannya diganti yang baru. Tetap menggunakan piringan Suzuki Satria

Coba-coba tukar Sprocket Gear Byson 18 December 2012

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , , ,
18 comments

Seperti diketahui, besar kecil sprocket gear turut menentukan tingkat responsiveness dan topspeed sebuat sepeda motor. Dengan kompresi engine 1 : 9 membuat karakter tarikan byson yang smooth.  Oleh karenanya hal yang termasuk pertama kali penulis lakukan dalam memodifikasinya adalah dengan mengubah konfigurasi sprocket gear.

Aslinya, byson menganut sprocket gear belakang 40 mata (pada satu gear terdapat 40 buah duri-duri)   dan depan 14 mata. Prinsipnya bila ingin meringankan tarikan, maka konfigurasi rasio gear depan belakang harus diubah. Semakin rendah rasionya, semakin berat beban mesin tapi semakin tinggi top speed sementara semakin tinggi rasionya, semakin ringan tarikan mesin namun semakin rendah top speed. Contoh: dengan sprocket asli byson, maka terdapat rasio konfigurasi 40/14=2.85. Bila ingin menambah tarikannya maka rasio tersebut harus diperbesar >2.85 dan bila ingin menambah top speed maka rasionya harus diperkecil <2.85. Dari perhitungan matematis, konfigurasi rasio tersebut dapat diperoleh dengan mengubah besar gear belakang dan depan.

Informasi yang penulis peroleh  dari http://universalbyson.blogspot.com/2011/09/experiment-kecil-kecilan-terhadap-rasio.html memperlihatkan hasil eksperimen terhadap variasi ukuran sprocket gear untuk mendongkrak tarikan Byson. Begini reviewnya: (awal kutipan)

1. 14 (depan) – 40 (belakang)

Ukuran standard gear byson, ato secara rasio 40/14 = 2.85, rasanya? smua pasti tau lah.. tarikannya merata, bawah, tengah ama atasnya lumayan…Kalo pake box (kyk gw: bodi + box = 80 kg), ternyata kerasa berat, apalagi kalo bawa mahluk halus di bonceng (pacar), kerasa banget ngedennya..jadi kudu ganti dengan rasio gear yg lebih besar.

2. 14-44

Gear belakang diganti sama punya si scorpio, PnP kok, 6 titik bautan, plek plek plek deh. Rasio gear jadi 44/14 = 3.14, rasanya? akselerasi manteb, kata orang sunda mah “ngajol”.. (loncat2).. padahal motor dikasih box (10kg) + mahluk halus + gw = 10 + 70 + 50 = 130 kg, motor kerasa enteng seperti ngga bawa boncengan + box dengan rasio gear standard. Tapi… napas kerasa pendek banget.. baru ngegas stengah dah pol, kudu oper gigi terus.. jadi malah capek kalo motor pas buat sendirian..

3. 14-42

Gear belakang pake punya vixion, sama jg: plek plek plek..Rasio gear jadi 42/14=3 pas. Akselerasi ngga segalak 14-44, tapi napas jadi lebih panjang, walaupun masih lebih pendek dibandingkan dengan rasio standard…Buat boncengan + box lumayan enak, ngga ngeden tapi ngga terlalu cepet habis jg nafasnya.. INI RASIO GEAR YANG PALING PAS BUAT BONCENGAN + BOX, menurut gw lho..

4. 15-42

Sekarang ganti gear depan jadi 15, pake punya mx ato pake merek TK ato yg laen, PnP kok, karena punya bison lubang bautnya cuman ada 1 (spt MX)..Rasio jadi 42/15=2.8 pas, ini rasionya lebih kecil dari standard, bisa ketebak dengan mudah, ngedennnnn abiss.. bahkan dalam kondisi motor sndiri + box doang dah kerasa ngeden.. NOT RECOMMENDED lah..

5. 15-44

Gear lama scorpio gw pasang lagi, jadi rasionya jadi 44/15=2.933333333. Buat sendirian + box = TOP MARKOTOB deh.. tenaganya jadi enteng di semua RPM, mulussss…. trus napas ngga cepet habis seperti gear rasio 3.0 (14-42)…Tapi pas buat boncengan, hmm.. agak ngeden.. not recomended kalo buat boncengan… tapi kalo boncengan ente ngga berat2 amat.. coba deh rasio ini.. manteb…

6. 13-40

kalau ini saya sendiri yang berexperimen..Gear asli depan BYSON saya copot diganti gear RK-K + pasang spi dikarenakan punya byson pakai baut untuk peganagn gear biar tidak copot dan gaear+spi harganya ga bikin kantong bolong kok kisaran 20rb. kenapa saya menggunakan gear depan 13 ??? ketimbang gear asli 14. teman pernah bilang ke saya bila ingin tarikan awal byson oke ganti aja pakai 13 karena gear depan turun satu mata itu juga = naikin gear belakan 5 mata dan kebanyang dong gimana akselerasi awalnya, mau dikasih beban segede gajah juga ga ngaruh, nah kalau dihitung2 jadi rasionya jadi 40/13 =3.076. Buat sendirian + box = kurang enak napas kerasa pendek .. baru ngegas stengah dah pol ya walaupun masih mau main di RPM 8500.(akhir kutipan)

Berdasarkan review tersebut akhirnya penulis kemudian memilih ukuran diperkirakan paling optimal yaitu 15-44 (rasio 2.93), dimana tarikan cukup ringan namun tidak terlalu banyak kehilangan top speed. Benar banget bro. Tarikan sangat ringan untuk membopong tubuh penulis yang berpostur tinggi besar 186 cm/88 kg bahkan dengan berboncengan dengan anak (185cm/95Kg). Oya, gear depan 15 memakai punyanya Yamaha MX dan belakang 44 memakai punyanya Scorpio.

Sprocket Gear Yamaha Scorpio

Gambar

Setelah porting polishing yang penulis lakukan tempo hari di BRT (baca tulisan sebelumnya), penulis tingginya kekuatan mesin sehingga tarikan terasa terlalu ringan dan napas motor jadi semakin pendek. Oleh karenanya penulis ingin memperkecil rasio gear yang ada pada saat ini. Agar napas gas semakin panjang. Apalagi penulis sedang naksir kepada gear Sinnob yang pernah terlihat sangat cantik nangkring di sebuah Honda Tiger. Cek punya cek, ternyata memang gear yang tersedia untuk byson adalah 42 mata. Jadi pas lah, kalau diganti dengan konfigurasi 42/15=2.8, hampir sebesar konfigurasi rasio awal, 2.85. Cukup berat dan pasti naik top speednya sekitar 5 kpj. Cara menghitungnya adalah (ambil saja asumsi kecepatan awal dengan gear 15/44 100kpj) yaitu 2.93/2.8 dikalikan 100=104.64. Kenaikan 4.64kpj dibulatkan 5kpj.

Sprocket Gear Sinnob Yang Cantik

Gambar

Namun ketika hendak kebengkel, penulis iseng-iseng membawa gear lama (40 mata) untuk dicobakan dengan konfigurasi 15/40. Asumsi penulis adalah kalau tarikan ternyata berat, maka ya sudah sekalian ganti Sinnob yang 42 mata.

Namun penulis sungguh terkejut mencobanya. Motor tetap mampu melonjak dan dengan cepat (gigi 3) penulis bisa mencapai 80kpj. Wow, impresif sekali. Kalau begini, tidak jadi saja mengganti dengan gear Sinnob. Ini saja sudah lebih dari cukup. Sorry Sinnob.

Begitulah, kini penulis menggunakan paduan srocket gear 15/40 dengan rasio 2,666. Dengan demikian dengan mengubah dari gear semula (15/44) menjadi 15/40, setidak-tidaknya penulis memperoleh penambahan top speed sebanyak 9.7 atau dibulatkan menjadi 10kpj. Itu dengan asumsi top speed semula 100kpj. Padahal konon kecepatan Byson standar (belum diapa-apain) yang paling lelet saja 105kpj (walau banyak sekali yang lebih, sih, bahkan blogger IWB mengklaim 116kpj). Kira-kira berapa ya top speed Byson penulis sekarang? Oya, sejauh ini modifikasi yang dilakukan adalah mengganti knalpot dengan knalpot free flow AHRS, pasang cdi racing dual band BRT, dan porting polish saluran isap dan buang di bengkel BRT.

Yamaha Byson dan Karburator PE 28 (KW), gagal total 13 December 2012

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: , ,
54 comments

Sejalan dengan semakin mahalnya bbm, para pembuat sepeda motor juga berlomba-lomba membuat sepeda motor yang lebih hemat bbm agar motor bikinannya menjadi lebih diinginkan konsumen. Misalnya dengan aplikasi karburator tipe vakum. Berbeda dengan karbu konvensional yang langsung menyemburkan udara dan bensin begitu gas dipuntir, karbu vakum hanya menyemprotkan bensin bila terjadi kevakuman di dalam silindernya. Artinya, suplai bensin hanya terjadi jika dibutuhkan. Efeknya adalah pemakaian bbm yang hemat dan efisien. Namun akibatnya, pembakaran terjadi kurang spontan yang mengakibatkan tarikan mesin juga smooth, alias kurang responsif.

Oleh karenanya sudah  beberapa lama saya saya ingin (lihat tulisan ini) mengaplikasikan karbu tipe lawas, Keihin PE28, karbu konvensional agar tarikan Bysonnya jauh lebih responsif. Ini sebenarnya keinginan yang genit saja disertai rasa ingin tahu yang besar karena secara fungsional tidak ada masalah dengan performa Byson penulis. Tapi siapa tahu tarikannya memang bisa tambah greng lagi.

Di pasaran banyak ditawarkan karbu ini. Kebanyakan adalah KW alias tiruannya. Namun, KW ini pun terdiri dari berbagai jenis. Dari yang 300 ribuan sampai dengan 900 ribuan. Namun, karena tiruan, kita tidak pernah tahu mana yang bagus dan mana yang jelek. Pada produk tiruan, tidak selalu harga  berbanding lurus dengan mutu, karena terpulang kembali kepada kejujuran penjual ataupun pembuatnya.

Oleh karena itu setelah sempat diwanti-wanti untuk tidak membeli sendiri, saya kemudian memasrahkan pembelian sekaligus pemasangannya kepada montir bengkel dekat rumah.

Ada beberapa penyesuaian yang dilakukan. Pertama kabel gas. Kabel gas yang lama tidak kompatibel dengan karbu PE oleh karenanya mesti diganti. Berbagai kabel dicoba. Kabel-kabel gas bebek, bahkan vespa dicoba. Kurang sesuai. Namun akhirnya ketemu kabel yang cukup panjang. Kabel gas Scorpio. Dipotong sedikit dan disimpul ujungnya dengan gulungan benang yang dilem, sebagai pengganti bandul timahnya untuk pengait di skep silindernya.

Sementara ukuran saluran outlet karbu PE tidak sama ukurannya dengan selang yang ada sehingga harus diganti dengan bahan lain. Browsing kesana kemari menyarankan menggunakan selang karet radioator mobil yang kemudian diklem. Mengingat ukuran karbu PE yang sedikit lebih mungil dari karbu bawaannya, selang filter mesti ditarik sedikit ke depan dan posisi tabung filter dimajukan sedikit sekira 1 cm.

Gambar

Hasil

Motor bisa dihidupkan dan berjalan lansam pada putaran rendah. Tarikan dirasakan sangat responsif pada putaran rendah dan sedang. Namun menyentuh 6000rpm ke atas, mesin terbatuk-batuk dan kehilangan tenaga. Berbagai penyesuaian dilakukan. Misalnya membuka saringan udara ataupun penyetelan pasokan udara. Namun sulit sekali mencapai rpm tinggi. Akhirnya Karbunya tidak jadi digunakan.

Analisa

Dari analisa bodoh-bodohan yang saya lakukan ada beberapa sebab yang mungkin bisa menjadi penyebabnya. Pertama, karbu yang diperoleh memiliki kualitas yang jelek. Namun pendapat ini sedikit banyaknya dipatahkan karena setelah karbu tersebut dicobakan ke Yamaha Mio terbukti berfungsi bagus.

Kedua, spuyer PJ dan MJ nya kurang cocok (kekecilan atau kebesaran). Berbagai ukuran PJ dan MJ tidak bisa dicoba karena keterbatasan inventory bengkel tersebut. Secara teoritis PJ dan MJ bawaan PE tersebut sebenarnya tidak perlu diganti, namun penulis perkirakan, dengan porting dan polishing yang dilakukan tempo hari membuat konfigurasi PJ dan MJ harus diubah.

Penutup

Rasanya penulis harus sekali lagi mencoba dengan variasi PJ dan MJ yang lebih kecil atau besar. Opsi terakhir adalah menggunakan karbu Keihin PE 28 yang asli yang sangat mahal. Beli gak ya? Amat berisiko jika ternyata tidak cocok lagi. Jadi penulis masih pikir-pikir. Sementara ini harus puas dulu dengan karbu bawaan Byson yang asli. Atau PE 28 Daytona? Hemmm.

Tentang Bysonku 26 November 2012

Posted by The Naked Rider in Artikel.
Tags: ,
8 comments

Penulis berkenalan pertama kali dengan Byson pada bulan April 2012 di dealer Yamaha dekat rumah. Senang dengan sosoknya yang besar dan kekar.

Ada beberapa ubahan penulis lakukan agar sang byson semakin enak dikendarai. Pertama mengganti ban aslinya (oya, ban depan 100/70 dan belakang ukuran 120/70) dengan ban yang lebih pas, Metzeler ukuran 120/60 (D) dan 150/60 (B). Efeknya adalah kehalusan berkendara dan daya cengkeram yang mumpuni sewaktu membelok walau jalan dalam kondisi basah. Bahasa anak motor adalah enak dibawa rebah.

Ubahan berikutnya adalah mengganti knalpot byson yang eco-friendly (mengadopsi katalitik converter) dengan knalpot ubahan freeflow buatan AHRS yang menariknya tidak mengubah tampilan luar dan mirip sekali dengan knalpot aslinya. Agar tarikannya semakin ringan, sprocket gear turut diubah. Ternyata dipasaran terdapat 3 jenis sprocket gear belakang yang plug and play. Pertama punya byson sendiri (40 mata), vixion (42 mata) dan terakhir Scorpio (44 mata). Mengingat gear depan byson memiliki 14 mata maka hitungan matematisnya jadi 40/14=2,86. Hampir semua review tentang byson mengatakan tarikannya berat. Jadi harus dicari paduan sprocket gear yang lebih besar agar tarikan menjadi lebih ringan. Bila memakai punya vixion hitungannya menjadi 42/14=3 pas. Sementara memakai gear scorpio hitungannya menjadi 44/14=3,14. Berbekal informasi dari browsing berbagai situs motor, rasio 3 ke atas dianggap terlalu ringan, dimana tarikan pertama bagus namun tenaga cepat hilang di putaran atas. Artinya top speed kurang optimal. Review mengatakan paduan yang ideal adalah 41/14=2,929, dimana tarikan cukup ringan, namun tidak terlalu cepat kehilangan tenaga di putaran atas. Cari punya cari ternyata sulit sekali mencari sprocket gear ukuran 41. Akhirnya penulis menggunakan sprocket belakang scorpio (44) dan gear depan punya Jupiter MX (15 mata). Jadi hitungan matematisnya menjadi 44/15=2,933. Pas sekali. Namun mengingat ukurannya menjadi sangat besar rantai harus ditambah 2 mata agar rantai cukup panjang memeluk sprocket gear untuk menggerakkan roda belakang.

Ubahan di sektor mesin juga dilakukan dengan porting dan polishing saluran masuk dan keluar udara dan bensin langsung di dapur bengkel kondang Bintang Racing Team (BRT) Cibinong. Efeknya, tarikan semakin bertenaga. Untuk membantu putaran atas, penulis mengadopsi CDI racing dual band produksi BRT juga. CDI ini membuat limiter RPM menjadi lebih tinggi (di atas 10.000). Tentu saja ini disertai ubahan memberbesar spuyer main jet dan pilot jet. Sayang penulis tidak sempat mencatat ukurannya.

Sedangkan pada tampilan luarnya, penulis melepaskan seluruh stiker striping yang terkesan terlalu ramai seperti pasar malam. Sebagai gantinya penulis cuma menempelkan tulisan YAMAHA pada tangki depan. Ubahan lain adalah melepaskan tutup samping dan belakang yang menurut penulis berbentuk sangat feminin. Efeknya, pipa rangka yang terlihat malah memperlihatkan sosok yang jantan. Agar tunggangan pas dengan tubuh penulis yang 186cm, penulis meninggikan shock absorber belakang 2 cm. Pada bagian belakang bawah, penulis juga menginstall disk brake dengan caliper after market, dengan master rem Nissin.

Pada bagian depan, penulis merasakan stangnya terlalu rendah sehingga juga meninggikan 2 cm dengan raiser buatan DBS. Untuk melindungi buku jari dari kemungkinan cedera, penulis juga mengaplikasikan hand guard after market. Spatbor depan pun diganti dengan produk after market kepunyaan Ninja 250. Selesai? Hmm belum juga sih. Penulis ingin men swap karburator vacum nya dengan tipe lawas Keihin PE 28 yang legendaris. Tapi nanti nanti sajalah.

Inilah sang Byson, kekar, bertenaga dan sungguh mantap dikendarai. Salam bikers brotherhood.

Nunoo's Journal

an ignorant rider, lousy traveler, almost a wayfarer... enjoy ride a motorcycle and take a lot of good pictures..

kilaubiru™

Expect nothing. Do something.

INDOBIKERMAGS.COM

Skutik - Bebek - Sport - Supersport - Superbike - Roadster - Cruiser - Cross - Heavy Enduro - Classic - WSBK - MotoGP

autoblogindonesia

A Simple Blog Contents Automotive Informations

Iwanbanaran.com | All About Motorcycles

Autonews | Discussion | Issue | Review | New product

tmcblog.com

Motorcycle News

Nichoz Blog

Berbagi Informasi Seputar Otomotif

Rudi Triatmono Personal Blogs

A Simple Blog, that contains some articles about Motorcycles, Information Technology, Management and much more...

Smartfaiz

Doa buat anakku (Faiz/Nafis) agar menjadi anak smart. Blog yang memprioritaskan motor dan modifikasi --smartfaiz--

7Leopold7

Catatan ttg bron pit dan perjalanan saya bersama mereka

Otomotoshare's Blog

Sharing Through The Automotive World

learningfromlives.com

Gubuk kecil untuk belajar dan berbagi pemikiran.

ridertua - Motorcycle Blog

All about motorcycle,discussion,biker lifestyle,personal experience.....never too late for bikers...

Yamaha Vixion Club Bogor

MoreThan A Club Activities

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,339 other followers